Luruh

Hempasan gelombang menggulung pelataran terapung.

Hingga kosong.

Tiada arti.

Haruskah terdiferensial kembali.

Haruskah terurai menjadi fragmen-fragmen tak berinti.

Astaghfirullah…..

Pandangan ku menitik ke tanah.

Tiada ku tahu hijaunya sawah.

Tiada ku rasa dinginnya asap kaut di kawah Rinjani.

Sejenak alpa…..

Akan yang semestinya dirasa dan merasakan.

Dengan langkah gontai….

Ku usap peluh yang membasahi pori-pori novel tak semerbak melati.

Sambil ku tanya kalbu dengan lirih.

Akankah…

Cepat terintegralkan tiada meluruh..

Mutiara di dasar hati…

kicauan nurani

Kemarin jam 12:33 ·
Pilihan Lainnya

Kini…
Nanti…
Tiada peduli dengan materi…
Tiada peduli dengan serial cantik namun basi.
Tiada perlu ambisi mendengar janji2 sang petinggi…
Entahlah Rabb…
Negeri antah berantah ini semakin sulit dimengerti.
Pemuda…pemudinya pun terombang ambing dg kegalauan yg meninggi.
Kini..
Nanti…
Hanya memikirrkan kehidupan setelah mati..
Memanjatkan semesta doa kpd ilahi rabbi…
Smg para pemimpin liberal mendapatkan hidayah Nya.
Karena… Dilubuk kecil ini, masih menyuarakan bahwa harapn itu masih

malaikat kecil ku

waktu berjalan begitu cepat, musim berganti tiada menentu. Kadang rinai menguasai daratan luas. Kadang kemarau membakar pucuk-pucuk pinus. Waktu tak mengenal kata kompromi.

Kini, malaikat kecil ku sudah semakin besar. Semakin pintar menguntai kata a i u e o, menyambung surat al fatihah dan al ikhlas. Bahkan, bertutur tentang suatu gambar berwarna. Alhamdulillah, begitu besar anugrah yang diberikan ALLAH kpd perahu kecil yang sedang ku arungi bersama kekasih hatiku. Seorang malaikat kecil yang nantinya dapat membawaku untuk mencium surgaNya Allah.

BAHAGIA TAK HARUS SEMPURNA

Jumat sore….

Rutinitas seperti biasa…

Pulang sekolah dengan angkot merah yang setia menemani ketika senja mulai memerah.

Perjalanan dari petukangan menuju slipi…

Selalu saja ada yang membuat diri ini mengernyitkan dahi. 

Di dalam angkot merah itu…

Ada sepasang suami istri dengan empat anaknya. Istri dan empat anaknya terlihat sempurna secara fisik, namun suaminya adalah seorang tunanetra.

Tahmid dan takbir bergemuruh di dalam dada. Pandangan mataku pun tak bergeser pada apapun selain mereka.

Mereka terlihat bahagia, tak ada setitik pedih pun yang terpancar dari wajah mereka. Sang ayah tak merasa terbebani dengan keempat anaknya, hal itu terbaca dari wajah-wajah mereka yang berbinar. Sepertinya keluarga itu tak perduli dengan program keluarga berencana. Sang ayah pun tak merasa khawatir dengan rezeki masing-masing dari anaknya. Dan sang anak pun terlihat bangga dengan apa yang ada pada sang ayah.

Duhai Allah… yang menciptakan makhluk dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, Engkau sungguh pandai mencipta segala wujud dan segala yang ada di dalam hati.

Betapa tersentilnya diri ini, ketika melihat mereka. Bahagia itu tak harus sempurna. Tanpa melulu merapat  kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Kita bisa tetap bahagia tanpa harus menjadi sempurna.

Lembaran lontar untuk guruku, murobbiahku…

Lama sudah tiada ku goreskan kata-kata yang jika terkumpul menjadi sebuah paragraf bahkan narasi.

Kini baru  saja ku mulai kembali menyusun huruf demi huruf menjadi beberapa kata dalam bait-bait puisi yang kurasa tak berima dan tiada bertatanan rapih…

bismillah…..

Masa berganti begitu cepat

Setahun

Sewindu

bahkan seabad sekalipun

Goresan-goresan kenangan

masih terpatri dalam sanubari

Wajah yang selalu berhiaskan senyum kesabaran

walaupun rona terkadang pekat

Selalu saja engkau memberikan kesejukan di jiwa

Kapan aku bisa berjumpa kembali dengan seseorang seperti engkau duhai guruku…

Dimanapun kau kini

Dimanapun aku kini…

Banyak doa menyerta untuk mu…

Semoga Lautan kasih sayang Allah selalu menggenggammu

Semoga segala urusanmu dimudahkan olehNya

Syukran katsiran…

hanya itu yang dapat terucap

Syukran kastiran

atas rona pelangi yang kau ukir

dalam novel kehidupan yang tiada pernah berpendar

atas telaga kata penuh hikmah…

yang kini menyisakan rindu aku untuk mendengarnya kembali

 

 

Surat Kecil untuk Dinda

untaian kata ini dituliskan oleh seorang teman sejatiku, suamiku, lelaki semesta yg begitu sederhana dan bersahaja…
Lelaki pilihan yg Allah berikan utk menemani hari2 bersejarahku di sini…

dinda….
perjalanan kitabelum jauh,
tapi banyak yg kita rasai bersama.
tak selalu mulus…
kadang menanjak…
menurun…
dan ada saja sandungan-sandungan kecil di sana.

dinda…
perjalanan kita belum jauh,
tapi banyak pelajaran hidup yg kita dapati.
belajar sabar, syukur,saling pengertian dan memaklumi serta memaafkan kekurangan dan kekhilafan.

dindaku…
bersamamu memang butuh kesabaran kedewasaan.
teruslah mengingatkan dalam kealpaan dan kesabaran.
teruslah begitu dinda…
smg Allah melimpahi keberkahan sebagaimana doa-doa yg kita panjatkan.

7 Syawal 1431 H

Aku akan membuka sebuah memoar bersejarah dalam hidupku. Sebuah memoar yang membuatku setengah melayang ke emperan surgaNYA Allah.
Sebuah memoar yang akan menjadi sejarah terpenting dalam hidupku.

Seminggu setelah ‘Idul Fithri, tepatnya 7 syawal 1431 H ba’da maghrib. Kau datang dengan bersahaja dan percaya diri. Kau mengenakan baju koko berwarna putih, selaras dengan tujuan kau dan keluarga bersilaturahmi ke bilik rumahku. 7 Syawal, pertama kalinya aku dipertemukan oleh ibu dan bapak mu, yang nantinya akan menjadi ibu dan bapak ku juga.
Adakah kau ketahui, aku begitu salah tingkah di hadapan keluargamu. Jantungku berdegup kencang, namun itu dapat dinetralisir dengan berada didekat emak. Saat itu, aku seperti gadis cilik yang tak bisa lepas dari emaknya. Hmmm… Aku baru sadar sekaligus malu menghiasi dinding-dinding wajahku, di usia yang tidak lagi muda, aku begitu manja kepada emak. Dalam tundukan pandanganmu, mungkin kamu mengamati sedikit gerak-gerik ku ketika itu. Mungkin kamu tersenyum kecil…Beginilah calon isterimu. Ketika berada dekat emak, tak dapat menyembunyikan sikap manjanya. Walaupun demikian aku adalah seorang wanita yang tegar dan mandiri:).

Saat-saat itu pun tiba, saat dimana kau khithbah aku. Saat bersejarah yang akan dikenang seumur hidupku.Walaupun untuk penggenapan setengah dien harus menunggu hingga awal tahun 2011.Keputusan ini adalah kemauan ibu ku, karena terbentur adat istiadat yang tidak membolehkan pernikahan dalam satu keluarga terjadi dua kali dalam setahun. Aku rasa, inilah saat-saat terberat. Saat penantian yang begitu panjang. Saat-saat godaan syaithan menelusup di relung-relung jiwa. Saat kegundahan kembali menyergap, karena bisikan-bisikan tentang apakah benar dia adalah jodoh ku? Karena jujur…saat-saat itu tiada sering berkomunikasi apalagi bertatap muka untuk sekedar berwacana tentang rencana selanjutnya… Hanya keyakinan untuk menyerahkan segalanya pada Allah…

Namun, Alhamdulillah…aku dapat teguh dalam penantian. Alhamdulillah… ALLAH senantiasa menjaga proses penantian ku ini. Alhamdulillah….berjalan sesuai dengan koridor agama yang aku yakini benar adanya.Hingga akhirnya kau pun menjemput ku seiring dengan janur kuning yang melengkung, 5 februari 2011.

Dilema tak sekedar materi

Duhai Allah Penggenggam jiwa dan raga…
Hanya Kau Yang Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi hamba…
Seorang hamba yang dhaif, tiada mengetahui secuil pun tentang takdir yang tergores indah di Lauhl Mahfuzh.
Bukan materi yang membuat dilema berkepanjangan..
Namun, rangkaian keikhlasan yg tiada ternilai di hadapan Tuhan.
Ya…keikhlasan….
Tulus dalam kalbu.
Juga raut bahagia dari sahabat-sahabat kecil ku.

Ah…
Langkahku gontai…
Berulang kali…
terkadang ke kanan, terkadang ke kiri….
Mohon dg sangat kpd ALLAH semoga dikuatkan.
Dalam istikharah bersulam kepasrahan….